Negeri ini bukan milikmu

negeri ini bukan milikmu

bukan juga orang-orangmu

 

negeri ini milik rakyat 240 juta

negeri ini warisan para pejuang terdahulu

negeri ini calon tempat tinggal anak cucu kami

 

kalian kami pilih untuk kami

bukan untuk kelompok kalian

bukan juga ketamakan kalian, dan juga

bukan untuk orang-orang yang hanya gila kuasa

 

kami tidak tau siapa kalian

kami hanya menaruh harapan

tapi kami lihat kalian sia-siakan

 

lalu kami kecewa

sungguh-sungguh kecewa

jika kalian tidak mampu

kembalikan saja negeri ini

sebelum kami berharap terlalu jauh.

image

Mahasiswa adalah sebuah lapisan masyarakat yang terdidik yang menikmati kesempatan mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Sesuai dengan perkembambangan usianya yang secara emosional sedang bergejolak menuju kematangan dan berproses menemukan jatidiri, dan sebagai sebuah lapisan masyarakat yang belum banyak dicemari kepentingan-kepentingan praktis dan pragmatis, alam fikiran mahasiswa berorientasi pada nilai-nilai ideal dan kebenaran. Karena orientasi idealis dan pembelaannya pada kebenaran, sebagian ahli memasukkannya ke dalam cendekiawan.

(Arif Budiman 1983:150)

Stasiun

Matahari siang kali ini tidak tampak sinarnya sampai kemari. Dirinya terselubung awan-awan yang sedang berkumpul dan berpesta, menaungi sekumpulan masyarakat yang sedang berhiruk-pikuk di sebuah stasiun tua yang masih saja ramai oleh deru kereta atau suara pengumuman dari kepala stasiun.

Masih sekitar setengah jam lagi menuju pukul sebelas dua lima yang merupakan waktu keberangkatan keretaku, tapi aku masih enggan check in dan masuk ke dalam gerbong. Aku sedang menikmati secangkir kopi di sebuah sudut warung kaki lima, itu adalah kopi keduaku sembari larut dalam pengamatanku terhadap stasiun tua ini.

Sewaktu kecil aku sangat senang jika mendatangi stasiun, melihat gerbong-gerbong kereta dan lokomotif yang berbaris rapih atau hanya sekedar mengamati jumlah bantalan rel yang selalu bergerak naik turun jika ada kereta melintas diatasnya. Ternyata rel kereta api yang sudah dialasi oleh balok-balok kayu dan ribuan kerikil dibawahnya masih saja terguncang jika dilintasi oleh kereta. Tidak jarang aku sering berfikir jahil untuk menaruh kerikil diatas besi rel untuk melihat apa yang akan terjadi padanya saat terlindas roda kereta api, tapi aku tidak pernah sampai hati untuk melakukannya karena khawatir dengan keselamatan para penumpang pengguna jasa layanan kereta api. 

Stasiun bagi sebagian orang diasosiasikan dengan tempat perpisahan. Banyak orang yang mengantarkan sanak saudara atau kekasihnya untuk pergi disini. Meskipun bisa saja mereka sedang menunggu kedatangan orang tercintanya yang sebentar lagi tiba. Diantara tempat kepergian atau kedatangan seperti terminal, pelabuhan dan bandara, stasiun ini menurutku lebih banyak memiliki kenangan di dalamnya. Kenangan-kenangan dan berbagai harapan untuk segera kembali lagi seakan lebih hidup dan terasa di stasiun.

Sudah pukul sebelas lebih sepuluh yang artinya lima belas menit lagi kereta akan berangkat. Aku dengan malas bangkit dan membayar pesananku sebelumnya kepada seorang bapak-bapak yang usianya terlihat lebih muda ketimbang fisiknya. Aku segera menuju tempat check in di peron.

Jika dipikir lagi, rata-rata usia stasiun banyak yang sudah tua. Akan tetapi usianya yang sudah tua itu semakin memberi kesan dan menceritakan kepada setiap orang yang datang mengenai cerita-cerita dirinya yang telah lalu. Terminal, bandara atau pelabuhan mungkin sudah mendapat warna dari modernisasi yang menghilangkan kesan antik pada mereka. Tapi itu tidak terjadi pada tempat bernama stasiun ini. Modernisasi yang dibuat tidak menghilangkan kesan antik dan vintage nya sehingga kenangan-kenangan itu seolah hidup abadi bersama semakin tuanya usia stasiun.

Setelah check in, aku segera menuju gerbong keretaku. Tertera pada tiketku tulisan Eksekutif A yang berharga seratus tiga puluh ribu rupiah. Aku lebih memilih menggunakan kereta eksekutif saat mengetahui harganya tidak terlalu berbeda dengan kereta bisnis. Nomor kursiku 11 A dan saat itu aku melihat sudah ada penumpang lain di sampingnya. Seorang pria bersetelan kemeja rapih sedang membuka email pada tablet milikinya yang mungkin saja harganya sama dengan uang pangkal dari universitas yang menerimaku. Ya… aku adalah mahasiswa yang baru saja diterima di universitas kebanggaan bangsa.

Pukul sebelas dua tujuh kereta dengan perlahan meninggalkan stasiun, terlambat dua menit dari jadwal semula. Akan tetapi anehnya aku senang karena dua menit berharga itu aku gunakan untuk semakin banyak mengingat-ingat kenangan disini di kota yang sudah dua belas tahun aku tinggali ini. Sekarang aku harus pergi merantau untuk menimba ilmu di kota lain. Stasiun ini telah menjadi saksi pertamaku pergi merantau, meninggalkan sejuta kenangan dan harapan didalamnya, dirinya yang selalu menanti  kedatanganku jika kelak aku pulang kembali ke kota ini membawa sejuta kisah hebat di tempat perantauan.

Apa guna grondwet kalau ia tak dapat mengisi perut orang yang hendak mati kelaparan ?  maka karena itu, jikalau kita betul-betul hendak mendasarkan negara kita kepada paham kekeluargaan, paham tolong menolong, paham gotong royong, dan keadilan sosial, enyahkan tiap-tiap pikiran, tiap-tiap paham individualisme dan liberalisme daripadanya.

Ir. Soekarno